Harga TBS Sawit Anjlok, Ribuan Petani Sawit Menjerit

Oktober 14, 2008

Pekanbaru – Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit terus merosot, dari harga Rp1.800/kg kini hanya Rp 400/kg. Ribuan petani sawit di Riau pun menjerit.

Para petani sawit di Riau kini hanya dapat menatap dengan lesu TBS sawit milik mereka. Harga TBS dalam kurun waktu dua bulan terakhir anjlok sampai ketitik nadir. Harga jual dipasaran hanya mampu menembus angka Rp 400/kg. Kondisi ini membuat keterpurukan ribuan petani sawit di Riau.

“Jangankan untuk mengamil keuntungan dari hasil panen, untuk membayar upah buruh memanen saja kami sudah tidak sanggub. Kami tidak tahu persoalan apa sebenarnya yang terjadi saat ini sehingga harga sawit begitu anjlok,” keluh Samingan (45) petani sawit di Kabupaten Kampar Riau dalam perbincangan dengan detikFinance, Senin (13/10/2008) di Pekanbaru.

Samingan menceritakan, selama ini dengan lahan sawit 2 hektar dan harga sawit Rp 1.800/kg, maka setiap bulannya mampu menghasilkan uang minimal Rp 5 juta per bulan. Namun dengan kondisi harga saat ini, setiap bulan hanya mampu menghasilkan Rp 1,2 juta.

“Harga Rp1,2 juta itu belum dipotong upah memanen dan mengakut. Dua bulan bulan ini kita hanya mampu terima bersih maksimal Rp500 ribu. Kalau sudah begini kami mau makan apa lagi,” keluh Samingan.

Keluhan yang sama juga diungkapkan Irwansyah petani sawit asal Kabupaten Rokan Hulu (Rohul). Menurut Ketua Kelompok Tani Rokan Hulu itu, setidaknya saat ini ada sekitar 35 ribu hektar sawit milik petani tidak dipanen. Para petani lebih memilih TBS sawit mereka busuk di atas pohon.

Kondisi ini sudah berjalan dalam satu bulan ini. Apa lagi harga TBS sawit untuk di sebuah desa yang medan jalannya sulit dilalui saat musim penghujan oleh kendaraan, hanya mampu menembus harga Rp200/kg.

“Bayangkan saja, sejumlah desa ditempat kami harga TBS hanya dihargai Rp 200/kg. Jangankan untuk makan, untuk biaya panen, upah angkut sudah tidak mencukupi. Akhirnya sejumlah petani lebih memilih buah busuk diatas pohon,” keluh Irwansyah.

Chaidir Anwar Tanjung – detikFinance

Bibit Sawit Palsu Malaysia Beredar di Riau

Agustus 31, 2008

Pekanbaru – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau menemukan ratusan ribu bibit kelapa sawit palsu asal Malaysia beredar bebas di kalangan petani Riau. Padahal, jika menggunakan bibit palsu ini, panen petani tidak akan maksimal. Oleh karena itu, Kepala Dinas Perkebunan Riau, Akmal JS, Selasa (19/8), memperingatkan kepada seluruh petani dan pekebun atas keberadaan bibit sawit palsu tersebut.
Menurut Akmal, beberapa jenis dan merek bibit sawit palsu asal Malaysia yang beredar di Riau itu seperti Golden Super Hook, Super Gene, Costarika. Harganya memang “miring”, untuk kecambahnya hanya di kisaran Rp 2.000 per butir. ”Sebagai langkah pencegahan, kita telah melakukan sweeping terhadap bibit-bibit palsu tersebut. Kita temukan sebanyak 170.000 bibit di Dumai dan 46.000 butir sawit di Pekanbaru,” katanya.
Akmal menambahkan, jika petani menggunakan bibit sawit palsu asal Malaysia, selain hasilnya tidak bagus dan kurang menguntungkan, kualitasnya jelek, produktivitas rendah, dan rentan penyakit. Bukan hanya itu, bibit sawit palsu juga menghabiskan pupuk dengan jumlah yang relatif banyak, sementara produksinya sedikit.
Disinggung mengenai bibit sawit yang resmi, Akmal mengatakan bahwa ada enam perusahaan resmi di Riau yang diplot untuk menghasilkan bibit sawit unggulan yaitu Lonsum, Marihat, Socfindo, Damimas, Tunggal Yunus dan Bina Tani Nusantara. ”Untuk lebih amannya, masyarakat petani dalam mendapatkan bibit sawit bersertifikat bisa dari enam produsen bibit resmi di Riau atau dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Sumatera Utara,” terangnya. (den)
Copyright © Sinar Harapan 2008

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.