Bibit Palsu?

Sabtu, 26 Juli 2008
Mendengar ribuan bibit tanaman sawit yang dimusnahkan karena disebut bibit palsu, saya pun heran. Sebab yang dimusnahkan itu ternyata bibit sawit juga, bukan bibit sawit dari kertas atau plastik. Menurut saya bibit itu tetap bibit sawit, cuma tidak unggul (hibrid). Jadi lebih tepat kalau dikatakan dia itu bibit tidak unggul.
Nah, biasaya kalau membeli bibit sawit yang unggul ada sertifikat dari pihak yang berwenang yang mengeluarkannya yakni Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, PT Scofindo dan PT London Sumatera Ind Tbk yang berada di Sumatera Utara atau tempat lain, tapi tiga tempat ini yang paling dikenal. Sertifikat inilah yang disebut palsu, jika dalam sertifikat tertulis bibit unggul tetapi kenyataannya bibit tersebut tidak unggul. Inilah yang mungkin dimaksud bibit palsu tersebut.

Permainan membuat sertifikat ini yang perlu dicari oknumnya. Siapa mereka? Biasanya jaringannya sangat kuat. Sebab, dalam jual beli bibit sawit ini melibatkan banyak person. Mulai dari stakholder perusahaan yang mendapat izin menjual bibit sampai pembuat (pemulia) bibit itu sendiri.

Kabarnya di Marihat, Siantar, tempat pemulian bibit sawit unggul ini, banyak cara untuk mendapatkan bibit. Kita bisa mendapatkan bibit unggul tanpa harus mendapatkan sertifikat. Biasanya jenis yang seperti ini yang paling laku, sebab harganya agak miring kualitas unggul. Cara ini bagi yang punya jalan ke sana. Kalau kita (petani) di Riau tentu tidak semua punya ekses ke sana.

Tentulah menanam bibit dari kecambah yang ada di pasaran. Entah palsu atau tidak, yang penting tumbuh. Kemudian di saat umur satu tahun enam bulan, bibit itu dijual. Lumayan, dijual per polibek Rp15 ribu. Kalau punya 1.000 ribu bibit, dapat juga Rp15 juta. Hitung-hitung penghasilan tambahan dari lahan pekarangan di samping rumah yang digunakan untuk pembibitan sawit.

Anehnya bibit tidak unggul ini pun laris di pasaran. Jika di samping rumah Anda ada bibit sawit yang berumur 2 tahun sekitar 10.000 pohon, jangan takut tidak laku, akan banyak orang yang menanyakan bibit sawit Anda itu. Tingginya permintaan bibit sawit di Riau ini, disebabkan lahan baru yang akan ditanami masih luas.

Bagaimana hasilnya kelak? Tentu tidak sebaik bibit unggul, tapi sudah terbukti bibit yang tidak unggul ini pun mampu memakmurkan petani. Sebab, selisih harga dengan yang unggul tidak jauh beda bahkan sama saja. Biasanya para toke menyebut sawit yang tidak unggul ini dengan sebutan ‘’sawit kampong’’, harganya agak miring sedikit, karena dinilai buahnya terlalu banyak cangkang atau alasan lain, sehingga bisa merusak mesin pabrik sawit. Tapi yang jelas, itu kan sawit juga dan mutu minyaknya sama.

Sekarang yang menjadi masalah, kita yang tidak menanam sawit. Di saat orang lain panen, kita hanya menjadi penonton. Tiga tahun lalu, saya pernah diajak Nyoto —mantan penulis Tanglung di Riau Pos— melihat-lihat kehidupan warga transmigrasi di Lipatkain. Kehidupan mereka cukup makmur, ada yang penghasilannya rata-rata per bulan Rp100 juta, Rp50 juta, paling minim Rp5 juta. Bayangkan dibandingkan gaji PNS atau karyawanan swasta, bahkan dibandingkan BUMN pun tentu jauh.

Nyoto ternyata tidak mau menjadi penonton, dia ingin cuti nulis, dia ingin ‘’bersemedi’’ di kebun. Hasilnya tiga tahun berikutnya sungguh menggembirakan, sekarang sudah punya lahan sawit puluhan hektare. ‘’Rir, ini buku karanganku tentang teknis budi daya tanaman sawit,’’ ujarnya. Rupanya kawan ini tidak bisa menghilangkan gatal tangannya untuk menulis, ada saja hasil karyanya walau bergulat dengan tanah. Ketika saya lihat buku itu, ternyata bukunya sangat menarik bahkan diakui sejumlah insinyur pertanian, buktinya ada nomor ISBN dan dibantu pendanaannya oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Riau.

Jadi daripada kita membahas bibit tidak unggul, lebih baik membahas bagaimana bisa menanam sawit. Kalau tidak mampu menanam 100 hektare, 50 pun kan lumayan, atau dua hektare sajalah. Makanya kebijakan Pemprov Riau akan menanam 75.000 hektare tanaman sawit untuk rakyat itu sangat mulia, tapi sayang sampai sekarang tak ditanam. Kalau sejak empat tahun lalu ditanam, sekarang sudah 75 ribu rakyat Riau yang panen menikmati ‘’gurihnya minyak sawit’’.

Inilah yang menjadi perhatian kita, bagaimana kita semua bisa menanam sawit (miliki lahan) itu. Jangan tunggu besok, bila perlu utang untuk menanamnya. Sebab, dibandingkan utang ke bank untuk membeli mobil, yang harga jualnya turun lima tahun kemudian, lebih baik modal pinjaman itu digunakan untuk menanam sawit, dimana lima tahun kemudian bisa untuk modal menguliahkan anak-anak. Betol tak?

Kita iri dengan sejumlah perusahaan kayu yang mengubah hutan yang baru ditebangnya diolah menjadi perkebunan sawit, sebab dia mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Di saat menebang hutan, dia sudah untung, sekarang sudah punya pula ribuan hektare perkebunan sawit. Sementara Sakai, masih mencari ikan di sungai.

Oleh karena itu, munculnya wacana akan membatalkan program sawit K2I perlu dipikirkan lagi. Yang salah programnya atau pengelolanya. Kalau petani dengan modal puluhan juta saja sudah mampu menanam dua hektare sawit, mengapa pemerintah tidak bisa?

Di sinilah perlu pikiran jernih, bagaimana membangun masa depan Riau. Yakni masa depan rakyat Riau yang selama ini kalah bersaing dengan segelintir orang pintar dan bermodal.

Kita lihat dinamika ekonomi warga Kota Ujungbatu yang makmur disebabkan perkebunan sawit di sekitarnya, lihat juga Baganbatu, Pelalawan, Sorek, Lipatkain, Bangkinang, Tapung, Kasikan, Kotagaro dan sejumlah kota kecil yang didukung perkebunan sawit di sekitarnya. Bukan hanya koran yang laris, sepeda motor pun banyak pemesannya, bahkan mobil Kijang Innova juga. Selamat menanam!***

 
Oleh Jarir Amrun: Redaktur Senior 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: