Cerita Singkat Asal Sawit

Singkat kata sebagai berikut:

Tanaman Kelapa sawit berasal dari afrika barat. Pada tahun 1900-an, Belanda
mendatangkan 4 bibit sawit ke Indonesia. 2 dari Mauritius dan 2 dari
Amsterdam ditanam di Kebun Raya Bogor.

1920-an Belanda membuka perkebunan kelapa sawit pertama di Sumatra Utara
karena Sumatra Utara adalah tanah yang paling subur di Indonesia sekaligus
membuka AVROS (?), sebuah lembaga riset untuk tanaman dan menjadikannya
pusat penelitian tanaman untuk seluruh Asia. Untuk bibit kelapa sawit
diambil dari pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Raya Bogor.

AVROS menghasilkan bibit unggulan yang sering salah disebut avos. 1957 AVROS
berubah nama menjadi RISPA. Kemudian pada tahun 1963 Belanda membuka lembaga
penelitian yaitu MRS (Marihat Research Station) dan menghasilkan beberapa
varietas bibit.

Pada tahun 1973, melalui program nasionalisasi RISPA dan MRS digabung
menjadi PPKS (pusat penelitian kelapa sawit) dan menghasilkan beberapa
varietas baru bibit sawit. Jadi sekarang koleksi PPKS meliputi: bibit dari
AVROS, bibit dari MRS, dan bibit yang PPKS kembangkan sendiri.

London Sumatra Plantation (Lonsum) dan Socfindo (?) adalah perkebunan yang
berdiri bersamaan dengan berdirinya AVROS. Bibit yang mereka pakai berasal
dari bibit yang dikembangkan AVROS.

Costarica dan Malaysia adalah pemain baru diperkelapasawitan. Bibit yang
mereka pakai awalnya berasal dari Indonesia (AVROS/RISPA/MRS/PPKS) yang
kemudian dikembangkan sendiri oleh mereka sama seperti Lonsum dan Socfindo.

Menurut saya bibit-bibit dari Lonsum, Socfindo, Costarica, Malaysia, dan
India (belakangan ini cukup marak) sama baiknya dari bibit yang dihasilkan
PPKS. Yieldnya berkisar 28 sd 40 ton/ha/tahun tergantung lahan dan
pemeliharaannya. Kalau diuji beda bibit-bibit tersebut tidak berbeda.

Mengembangkan bibit sendiri sebenarnya tidak sulit asal tahu caranya namun
membutuhkan proses yang lama (5 – 10 tahunan). Saat ini banyak bibit yang
dikembangkan oleh rakyat yang diragukan kualitasnya. Secara habitus tidak
ada perbedaan antara bibit dari PPKS dan bibit asalan namun hasil TBS dan
rendemen oilnya sangat berbeda. Untuk perusahaan perkebunan hal ini akan
sangat merugikan.

Bibit-bibit yang baik tentunya dikeluarkan oleh produsen bibit yang sudah
terakreditasi oleh pemerintah yang sudah pernah diposting oleh Hendra
Sipayung (cmiiw). Semua produsen bibit diatas mengeluarkan sertifikat
sebagai jaminan kualitas bibit yang dijualnya. Mungkin bibit dari rakyat ada
juga baik tetapi kita tidak tahu mana yang baik dan mana yang tidak serta
sulit mendapatkan pertanggungjawabannya.

Harga-harga bibit:

1. PPKS, Rp 4.000 dan Rp 4.500
2. Lonsum dan Socfindo berkisar Rp 8.000an
3. Costarica, pembelian minimum 100.000 butir @ US$ 0,9
4. Malaysia & Australia saya tidak tahu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: